Seorang pakar gizi asal Jepang, Michiko Tomioka, membagikan rahasia umur panjang dan kebahagiaan bibinya yang kini telah menginjak usia 100 tahun. Kunci utama dari gaya hidup sang bibi adalah menerapkan filosofi hidup sederhana yang dikenal sebagai Syojin, yang berarti “pengabdian untuk menjalani hidup dengan kesederhanaan”.
“Ini adalah prinsip yang dianut oleh banyak mentor saya, terutama bibi saya yang merayakan ulang tahunnya ke-100 pada Januari. Sepanjang yang saya ingat, dia selalu tampil sebagai wanita yang anggun, tenang, dan penuh kedamaian,” ungkap Tomioka seperti dilansir dari CNBC Make It.
Berikut adalah empat kebiasaan utama yang menjadi kunci hidup panjang umur dan bahagia menurut sang bibi:
1. Menumbuhkan Rasa Syukur Setiap Hari
Sang bibi selalu memulai harinya dengan rasa syukur. Ia jarang mengeluh dan lebih memilih fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. Sikap ini membuatnya hidup lebih damai dan tidak mudah stres.
Tomioka menjelaskan bahwa bibinya sering menasihati untuk tidak membuang waktu serta energi pada hal-hal negatif yang berada di luar kendali.
2. Menjaga Pola Makan Sehat dan Sadar
Kebiasaan makan juga menjadi salah satu faktor penting. Bibinya rutin mengonsumsi teh hijau, aneka sayuran segar, tahu, dan ikan, serta menghindari daging merah dan rokok.
“Dia selalu mengingatkan untuk makan dengan penuh kesadaran—mengunyah perlahan, menikmati setiap gigitan, dan bersyukur atas makanan yang ada,” kata Tomioka.
Buah favoritnya adalah Yuzu, buah khas Jepang yang kaya akan vitamin C dan antioksidan. Buah ini dikenal dapat membantu mengurangi peradangan dan memberikan efek menenangkan, terutama saat direndam dalam air hangat.
3. Bersikap Ramah dan Penuh Kepedulian
Sang bibi selalu memperlakukan orang lain dengan penuh kasih sayang. Saat menerima tamu, ia akan menyuguhkan secangkir teh hangat dan memulai percakapan yang menyenangkan. Tak ada tamu yang pulang dari rumahnya dengan tangan kosong.
Kebiasaan memperlakukan orang lain dengan tulus inilah yang disebut Tomioka sebagai salah satu rahasia umur panjang dan kebahagiaan.
4. Menerima dan Menghargai Keterbatasan
Menerima kenyataan bahwa tubuh tidak sekuat dulu merupakan tantangan tersendiri di usia lanjut. Namun, sang bibi tetap aktif, menghargai kemampuannya, dan tidak ragu untuk meminta bantuan saat dibutuhkan.
Dia masih rutin mengunjungi pusat komunitas, mandi sendiri, naik turun tangga, dan mengikuti kelompok belajar agama sebanyak tiga kali seminggu. Aktivitas ini tidak hanya menjaga fisiknya tetap bugar, tetapi juga memperkuat koneksi sosial dan mentalnya.
