Stres bisa membuat perubahan pada wajah terlihat cukup jelas, terutama jika berlangsung terus-menerus. Hal ini terjadi karena saat stres tubuh meningkatkan hormon seperti kortisol, yang dapat memengaruhi minyak kulit, peradangan, sirkulasi darah, dan kualitas tidur.
Beberapa perubahan yang sering terlihat pada saat kita mengalami stress :
-
-
Wajah tampak kusam dan lelah
Kurang tidur dan perubahan sirkulasi darah dapat membuat wajah kehilangan kesan segar. Mata juga bisa terlihat sayu atau muncul lingkaran gelap.
-
Jerawat lebih mudah muncul
Stres dapat meningkatkan produksi minyak (sebum) dan memperburuk peradangan. Akibatnya, jerawat bisa lebih sering muncul atau menjadi lebih meradang.
-
Kulit terlihat lebih berminyak atau justru kering
Pada sebagian orang, stres membuat produksi minyak meningkat. Pada orang lain, kulit bisa terasa kering, kasar, atau lebih sensitif.
-
Mata sembap dan kantung mata lebih terlihat
Stres yang disertai kurang tidur dapat menyebabkan area sekitar mata tampak bengkak dan gelap.
-
Garis halus tampak lebih jelas
Dehidrasi, kurang tidur, dan kondisi kulit yang kurang optimal dapat membuat garis-garis halus terlihat lebih menonjol sementara.
-
Kulit lebih sensitif
Saat Stres dapat mengganggu fungsi pelindung kulit sehingga kulit lebih mudah mengalami kemerahan, gatal.
-
Wajah tampak lebih “tegang”
Saat stres, seseorang sering tanpa sadar mengernyitkan dahi, mengatupkan rahang, atau menegangkan otot wajah. Jika berlangsung lama, ekspresi wajah bisa terlihat lebih lelah atau kaku.
Perubahan wajah akibat stres biasanya bukan berarti wajah “rusak”. Ketika stres berkurang, tidur membaik, dan perawatan kulit serta pola hidup kembali teratur, banyak perubahan tersebut dapat membaik.
-
Untuk membantu mengurangi efeknya, prioritaskan tidur cukup, minum air, makan teratur, olahraga ringan, membersihkan wajah dengan lembut, menggunakan pelembap, dan memakai sunscreen pada siang hari.
Salah satu perubahan yang menjadi perhatian adalah munculnya flek hitam atau hiperpigmentasi pada wajah. Kondisi ini terjadi ketika produksi melanin, yaitu pigmen yang memberikan warna pada kulit, meningkat di area tertentu.
Saat seseorang mengalami stres, tubuh dapat meningkatkan produksi hormon kortisol. Perubahan hormonal tersebut diduga dapat memengaruhi berbagai proses di dalam tubuh, termasuk kondisi kulit dan aktivitas sel yang berkaitan dengan produksi pigmen.
Namun, hubungan langsung antara stres dengan munculnya melasma atau flek hitam belum dapat disimpulkan secara pasti. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh stres terhadap gangguan pigmentasi kulit.
Selain stres, kurang tidur juga dapat membuat kondisi kulit terlihat semakin tidak sehat. Waktu istirahat yang tidak mencukupi dapat membuat wajah tampak lelah, kusam, dan kurang segar. Pada orang yang sudah memiliki masalah pigmentasi, kondisi tersebut dapat membuat perubahan warna kulit terlihat semakin jelas.
